Selasa, 06 September 2016

Perlukah menjadi ibu yang mengerti banyak hal???

Definitely yes.

Menjadi seorang ibu merupakan anugerah Tuhan yang sangat besar terhadap kaum wanita. Dengan memiliki buah hati, kehidupan rumah tangga akan terasa semakin sempurna. Dari sini pulalah kehidupan seorang wanita akan berubah drastis. Bukan hanya menjadi istri, tapi juga menjadi seorang ibu. Rumah yang sepi akan mulai dipenuhi dengan tangisan malaikat kecil yang baru saja lahir ke dunia. Polos, bersih tanpa dosa. Dia lahir tanpa mengenal siapapun dan tanpa mengerti apapun. Dia bahkan belum bisa melihat dunia dengan kedua matanya. Barulah setelah beberapa hari matanya bisa terbuka, mulai bisa mengenal orang-orang disekitarnya dan mulai beradaptasi dengan kehidupan ini. 

Bukankah itu semua terjadi secara alamiah? Lalu dimanakah peran seorang ibu?

Ibu memiliki ikatan batin yang kuat dengan anaknya. Ikatan tersebut terbangun melalui emosi dan kognitif anak. Kasih sayang ibu sejak anak masih dalam kandungan akan mempengaruhi psikis anak secara tidak langsung. Jika ibu hamil membiarkan emosinya meledak-ledak, marah, takut, sedih, atau bahkan terlalu gembira akan berpengaruh pada pertumbuhan psikis anak karena ia ikut merasakan apa yang dirasakan ibunya. Misalnya saat ibu marah, jantung ibu akan berdetak lebih kencang, otot-otot berkontraksi, gerakan usus bergejolak, dan sebagainya. Bila kejadian ini sering muncul, kelak bayi akan mudah rewel, mudah was-was, bahkan mudah menangis. Kognitif sendiri memiliki arti proses mental atau aktivitas pikiran dalam mencari, menemukan, mengetahui, dan memahami informasi. Anak akan mengolah semua yang ia terima secara tidak langsung baik emosi atau perlakuan dari orang-orang terdekatnya terutama dari ibu yang telah bersamanya sejak ia masih dalam kandungan. Itulah mengapa pepatah arab mengatakan Al -Ummu madrasah Al-ula yang berarti ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. 
Ibu adalah “gudang ilmu”, “pusat peradaban” dan “wadah” yang menghimpun sifat-sifat akhlak mulia. Asumsi yang sangat keliru bila orang tua mengesampingkan pendidikan tinggi bagi anak perempuannya dengan alasan klasik pada akhirnya wanita akan menjadi seorang istri dan kodratnya mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Ingat! Wanita pada akhirnya akan menjadi seorang ibu yang melahirkan generasi penerus. Bagaimana mungkin kita mengharapkan masa depan yang cerah akan negeri ini bila generasi penerusnya tidak inovatif, tidak memiliki etos kerja yang tinggi serta attitude yang baik?. Seperti kata sayyidina umar: Bila kau ingin mengetahui masa depan suatu bangsa, tengoklah dari generasi penerusnya.
Peran yang sangat krusial ini menuntut seorang ibu untuk membekali dirinya dengan ilmu yang memadai. maka wajib hukumnya seorang ibu harus terus bergerak meningkatkan kualitas dirinya. Karena, untuk mencetak generasi yang berkualitas, diperlukan pendidik yang berkualitas pula. Hal itu berarti ibu tak boleh berhenti belajar. Baik secara formal ataupun informal. Teruslah memperbaiki diri, jangan pernah bosan mempelajari sesuatu yang baru serta eksplor kemampuan diri untuk membekali diri mempersiapkan generasi penerus yang bermutu. Anakmu adalah cerminan dirimu. Tanggung jawab itu ada di pundakmu ibu!