Kamis, 27 Juli 2017

When the Rain Comes to the Earth


Judulnya weew sekali yaa moms? Hehe.

Kenapa saya berikan judul seperti itu? Karena pada artikel kali ini akan mengulas sebuah aktivitas yang mengajarkan tentang hujan. Yup. Hujan pasti berhubungan dengan air dan basah kan moms. Jadi saya buat sket aktivitas yang menunjukkan bumi dengan tanah, hewan dan pohon yang akan terkena hujan. Untuk membuat hujan turun, saya gunakan penyemprot yang telah diisi dengan air. Kegiatan ini akan melatih motorik halus anak dengan cara mengerahkan energi yang mereka miliki untuk menyemprotkan air. Dengan melibatkan anak secara langsung, rasa bosan yang pasti muncul bila hanya bercerita dapat dihilangkan. Selain itu anak bisa melihat secara langsung mengapa hujan yang turun menyebabkan lingkungan  menjadi basah.  

Kids prefer to see more "showing" than explanation, right moms?

Berikut set yang saya buat.


Untuk membentuk tanah, saya menggunakan campuran tepung beras dan kopi agar warna yang terbentuk lebih natural. Paduan komposisi antara keduanya diperkirakan saja moms. Yang terpenting bahan yang digunakan edible sehingga tidak berbahaya bila termakan si kecil. Aktivitas seperti ini sangat menyenangkan tentunya karena berbagai aktivitas dapat dilakukan sekaligus. Mulai dari menyemprotkan air, bermain tanah buatan, menyekop, menyendok serta memperoleh ilmu baru tentang hujan. 

Aktivitas ini tanpa sengaja terlintas kemarin saat Ken sudah menunjukkan rasa bosan dengan mainan made in "shop". Itu pertanda He wants something more. Dan seperti biasa tarik tangan bunda kesana-kemari. Okelah, langsung saja bunda buatkan set permainan ini. Girang sekali dia. Sibuk bermain dengan semua toolsnya. Sampai-sampai tidak ingin bunda ikut bermain dengannya. May be he wants a "me time" too hahaa.

Senin, 24 Juli 2017


"Aww sakit Ken.."

Begitulah kalimat yang sering saya lontarkan pada Ken saat ini. 

"Emang diapain bunda?"
"Dicubit Ken."

Nampaknya sepele yaa bunda. Namun perilaku mencubit ini sudah terlalu sering Ken lakukan. Tanpa alasan yang jelas, tiba-tiba mencubit. Selalu begitu setiap harinya. Padahal saya dan suami sebagai orang tua tidak pernah menghukumnya dengan cara mencubit. Dalam hal ini, saya khawatir akan menjadi suatu kebiasaan buruk baginya bila dibiarkan begitu saja. Meskipun sebenarnya dia tidak berniat "menyakiti" orang lain, tetap saja perilaku ini akan merugikan orang lain serta dirinya sendiri. Misalnya saja bila dia mencubit temannya tanpa alasan, pasti dia tidak disukai atau bahkan tidak diajak bermain bersama. Perilaku ini bisa menjadi kebiasaan tanpa tersadari. Berawal dari rasa gemasnya, lalu mencengkeram semakin kecil dan tanpa tersadari ia pun suka mencubit. 

Anak kecil memang seringkali memiliki kebiasaan buruk. Pada umumnya, mereka melakukan kebiasaan tersebut karena membuat mereka nyaman. Misalnya saja suka menggigit kuku, menghisap ibu jari, memutar-mutar dan menarik rambut atau bahkan memainkan alat kelaminnya sendiri. Perilaku seperti ini bila dibiarkan begitu saja atau terlalu dianggap remeh akan menjadi suatu kebiasaan bahkan hingga dewasa kelak. Tentu saja tidak sedap dipandang mata kan bunda. Psikolog Dr Pat Spungin menjelaskan bahwa anak kecil tidak mengerti jika kebiasaan buruknya tersebut dapat membuat mereka tidak diterima di lingkungannya. Karena itulah kita sebagai orang tua harus dapat mereduksi pelan-pelan kebiasaan tersebut hingga nantinya kebiasaan itu dapat hilang total. Bagaimana caranya? Yuk simak tips-tips dibawah ini.

Cara menghilangkan kebiasaan buruk pada anak.

Perlihatkan sikap yang baik pada anak
Seringkali kita sebagai orang tua tidak sabar dalam menghadapi anak. Akibatnya bila anak melakukan kebiasaan buruk, orang tua merespon dengan memarahi atau bahkan membentaknya. Apakah baik merespon anak dengan emosi seperti itu? Tentu saja tidak bunda. Emosi yang orang tua luapkan hanya akan membentuk karakter pemberontak pada anak dan semakin tidak menghiraukan apa yang kita ucapkan. Jadi silahkan bunda melarang dengan lemah lembut agar nasehat yang diberikan dapat lebih diterima dan dimengerti anak.

Berikan penjelasan pada anak
Tips kedua ini merupakan follow up dari tips pertama. Setelah melarang anak melakukan kebiasaan buruknya, bunda dapat menjelaskan kenapa bunda melarangnya melakukan kebiasaan tersebut, tentunya dengan alasan yang rasional. Memang perlu kesabaran yang lebih untuk menghadapi para malaikat kecil ini, terlebih bila anak kita masih dibawah 3 tahun yang terkadang belum mengerti apa yang kita maksudkan. Namun tetap saja memberikan pengertian diperlukan agar anak tidak merasa diintervensi perbuatannya tanpa alasan yang jelas.

Berikan kesempatan anak untuk mempercayai nasehat anda melalui suatu case.
Tujuan tips ini adalah agar anak dapat berfikir baik tidaknya kebiasaan tersebut. Misal seperti yang saya alami, karena Ken suka mencubit, ketika berkumpul dengan teman-teman sebayanya dia cenderung tidak diajak bermain bersama. Nah, saat itu saya bilang padanya: "Nah nak, kalau suka mencubit nggak ada yang mau berteman kan sama Ken." Jadi setiap kali dia akan mencubit temannya, saya ingatkan kembali kejadian itu, dan dia mulai berfikir dua kali untuk mencubit. 

Berikan reward and punishment
Anak membutuhkan motivasi untuk tidak melakukan kebiasaan buruknya. Salah satunya adalah dengan memberikan reward dalam bentuk pujian saat anak tidak mengulangi kebiasaan tersebut. Ini merupakan bentuk motivasi paling ampuh bagi anak. Di satu sisi, terkadang kita perlu memberikan punishment pada mereka. Tujuannya tentu bukan untuk menyakiti, tetapi untuk menyadarkan anak bahwa yang dia lakukan dapat merugikan orang lain. Karena terkadang anak merasa lucu dan tidak menyadari perbuatan tersebut tidak baik. Pemberian Punishment  pada anak ini merupakan bentuk preventif agar mereka tidak mengulangi kebiasaan buruknya sehingga harus dilakukan sewajarnya saja. Misal saat Ken mencubit saya, saya akan mencubit Ken sembari berkata: "Sakit kan sayang? Nah makanya kalau Ken sakit dicubit, nggak boleh nyubit juga." Metode ini cukup berhasil saya terapkan pada Ken, sehingga dia tidak sembarang lagi untuk melakukan kebiasaan buruknya.

Jagoan bunda juga memiliki kebiasaan buruk? Silahkan dicoba tips-tips diatas yaa bun.

Meet up lagi dengan aktivitas edukasi moms😃😃😃


Kali ini masih seputar sensory bin, namun dengan bahan berbeda yaitu Jelly. Yup. Anak kecil suka donk yaa dengan bahan satu ini. Warnanya yang cerah, teksturnya yang lunak serta rasanya yang enak pastinya. Permainan ini bertujuan untuk mengenalkan nuansa sensorik yang baru lagi untuk anak. Agar semakin menarik, saya tambahkan beberapa bahan di dalam jelly agar anak penasaran dengan apa yang ada di dalamnya dan semakin tertarik dengan aktivitas ini. Selain itu, permainan ini juga dapat digunakan sebagai sarana untuk exercising practical life. Sehingga motorik halus anak juga terasah dengan baik moms.
Seperti biasa saya paparkan bahan dan cara pembuatan sensory "jelly" bin ini.

Bahan
  • Satu bungkus jelly powder
  • Air
  • Jeruk nipis
  • Oatmeal

Cara pembuatan
  1. Tuangkan jelly powder ke dalam air sesuai dengan prosedur pada bungkus (bisa merek apa saja bunda)
  2. Panaskan hingga mendidih dan terbentuk sol
  3. Potong jeruk nipis beberapa bagian dan taruh memencar pada wadah yang digunakan untuk memadatkan jelly
  4. Taruh pula oatmeal yang disediakan memencar di dalam wadah
  5. Tuangkan sol jelly ke dalam wadah
  6. Tunggu sampai membentuk jelly dan siap dimainkan.



Permainan sensory bin seperti ini selalu menarik bagi Ken. Langsung saja dia memasukkan jari-jari mungilnya untuk mengeluarkan jeruk nipis dan oatmeal satu persatu. (Lumayan lama karena oatmeal kecil kan yaa hehe). Dan karena permainan ini terbuat dari bahan yang bisa dimakan (edible food), saya tidak khawatir bila termakan oleh Ken. Dia pun asyik menyendok untuk memindahkan jelly, meremas-remas jelly dan do everything he wants. Sembari anak asyik bermain, bunda dapat melakukan me-time sebentar. Namun saya lebih suka ber me-time dengan ikut bermain bersama Ken hehe. So much fun moms!

Sabtu, 22 Juli 2017

"Yaah, kok kekecilan siih?"
"Hmm.. masih kebesaran nih buat adek"


Pernahkah bunda merasa kecewa seperti diatas saat membeli sepatu sang buah hati via online? Bila iya, bunda senasib dengan saya hehe. Saya telah dua kali dikecewakan dengan membeli sepatu online, satu kekecilan dan satu kebesaran. Curhat sedikit bun, paling kesal saat saya order sepatu impor kala itu, penuh kesabaran menunggu datangnya sepatu yang diidam-idamkan, kurang lebih 3 minggu baru sampai di tangan, dan ternyata sepatunya kekecilan buat Ken. Kecewa sekali rasanya hati ini. Speechless. Padahal ukurannya sudah saya spare lebih 1 cm dari ukuran kaki Ken. Dan dengan berat hati saya ikhlaskan sepatu itu hanya muat dipakai satu kali saja. Sempat terlintas pertanyaan, "Apa secepat itu kaki Ken bertambah panjang? Belum sampai sebulan juga". Entahlah. Rasanya benar-benar kecewa saat itu. Setelah memulihkan trauma selama beberapa bulan (hiperbola sedikit ya bun😂), akhirnya saya mencoba order sepatu via online lokal. Dan alhasil sepatu yang di order terlalu besar untuk kaki Ken saat itu. Sepatu yang terlalu besar sebenarnya tidak memberikan rasa kecewa yang berlebihan karena masih bisa ditunggu sampai pas di kaki anak, namun tetap saja terkadang kita ingin ukuran yang benar-benar sesuai agar bisa langsung dipakai anak, bukan begitu bunda?. Nah, sejak saat itu saya tidak pernah membelikan Ken sepatu via online. Namun apalah daya, di tengah kepraktisan yang ditawarkan situs jual-beli online, dan kebetulan saya salah satu penggemarnya karena selain model yang ditawarkan seringkali lebih unik daripada sepatu-sepatu etalase, prosesnya yang hanya tinggal klik-bayar-antar dan sampailah sepatu di tangan, membuat saya berniat mencari pedoman yang benar-benar cocok untuk dijadikan acuan dalam memilih ukuran sepatu yang pas di kaki Ken.

Adapun cara memilih ukuran sepatu untuk anak adalah sebagai berikut.

1. Ukurlah panjang tapak kaki anak yang diukur mulai dari jempol hingga tungkai kaki (disarankan dalam ukuran cm)

2. Bila bunda ingin menggunakan acuan sol dalam, disarankan untuk mengukur sol dalam sepatu anak yang sedang digunakan saat ini. Hal ini dikarenakan ukuran panjang sol dalam bukan berarti sama dengan ukuran panjang kaki anak. Bagian dalam sepatu anak (Sol dalam) diukur dengan bantuan meteran ataupun sedotan.

3. Ukuran sepatu lokal berbeda dengan sepatu impor, pastikan bunda mengetahui ukuran sol luar sepatu yang akan bunda beli. Spesifikasi ukuran sepatu anak standar eropa:
uk 20, panjang sol luar 13 cm
uk 21, panjang sol luar 14 cm
uk 22, panjang sol luar 14,5 cm
uk 23, panjang sol luar 15,5 cm
uk 24, panjang sol luar 16 cm
uk 25, panjang sol luar 17 cm
uk 26, panjang sol luar 17,5 cm
uk 27, panjang sol luar 18,5 cm
uk 28, panjang sol luar 19,5 cm
uk 29, panjang sol luar 20 cm
Untuk lebih memastikan bunda bisa menanyakan pada penjual ukuran sol luar sepatu yang bunda inginkan.

4. Pilihlah ukuran sol luar 1,5-2 cm lebih panjang dari panjang tapak kaki anak. Misalnya panjang tapak kaki anak 14 cm, maka ukuran yg pas adalah ukuran no 23 (sol luar 15,5cm) atau no 24 (sol luar 16 cm).

Demikian info yang bisa saya share untuk memilih sepatu dengan ukuran yang sesuai untuk jagoan kecil bunda, diharapkan bunda tidak perlu mengulangi kesalahan yang saya lakukan kemarin😂. Selamat berbelanja bunda!

Jumat, 21 Juli 2017

"Namanya juga Zoo, tokoh utamanya pasti para binatang kan?"


Yuhuuu. Benar sekali moms. Game edukasi ini bertujuan untuk mengenalkan binatang-binatang pada si kecil dengan cara yang lebih menyenangkan. Kebetulan Ken tipe anak yang tidak suka dengan metode "tunjuk gambar" untuk mengenalkan benda ataupun hewan, sehingga saya berinisiatif membuat miniatur dari kebun binatang lengkap dengan hewan-hewannya.

Selain mengenalkan berbagai jenis hewan, bunyi masing-masing hewan, makanannya apa, karakteristik tubuhnya seperti apa dan sebagainya. Mom juga dapat menyelingi dengan berbagai cerita sehingga anak lebih tertarik mendengarkan. Tidak perlu berkecil hati bila anak tidak terlalu memperhatikan pengenalan yang mom berikan yaa mom. Karena pada umumnya anak menyerap tanpa sepengetahuan kita dan dengan caranya sendiri. Mom dapat mengenalkan kembali di lain kesempatan. Pengalaman saya, pertama kali saya tunjukkan game ini, Ken lebih sibuk memainkan sendiri para binatang yang ada daripada mendengarkan pengenalan yang saya berikan. Namun karena saya paham karakternya, tetap saja saya bercerita panjang lebar. InshaAllah dia mengerti dengan caranya sendiri.


Pada kebun binatang yang saya buat ini, saya menaruh berbagai macam hewan darat baik herbivora maupun karnivora, mulai dari kambing, sapi, singa, harimau, jerapah, gajah, badak, kuda nil, badak, musang, gajah dan unta. Sebagai tanahnya, saya menggunakan beras yang telah diwarnai. Nah, disini Ken juga sekaligus melakukan aktivitas EPL (Exercise Practical Life) sehingga aktivitasnya tidak monoton hanya bercerita tentang binatang, namun juga melatih motorik halus anak dalam memindah "tanah" kebun binatang.

Seru?
Ofcourse mom. Let's try this one!!!

Kamis, 20 Juli 2017

Spoon.. spoon.. spooooon..
Let's spoon the rice!!!


Game edukasi yang kita bahas kali ini merupakan salah satu permainan yang dapat mengasah kemampuan sensorik dan motorik anak. Bahan utama yang digunakan adalah Beras. Dengan bermain beras, anak dapat mengenal tekstur baru dari sebuah benda dengan menyentuh sebagai salah satu kemampuan sensoriknya. Dari segi motorik, permainan ini dapat motorik halus yaitu koordinasi mata dan tangan dengan cara memindahkan beras dari suatu wadah ke wadah lainnya menggunakan alat misal sendok. Untuk menambah ketertarikan anak, bisa juga dengan memberikan warna pada beras. Dengan memberikan warna berbeda-beda pada beras bunda dapat memperkenalkan macam-macam warna pada anak. Adapun alat, bahan serta cara pembuatan permainan ini sangatlah mudah, berikut saya deskripsikan.

Alat dan bahan
  • Beras
  • Beberapa pewarna makanan berbeda
  • Wadah bermain
  • Sendok

Cara Pembuatan
  1. Bagi beras ke dalam beberapa wadah berbeda (disesuaikan dengan jumlah warna yang diinginkan)
  2. Berilah beberapa tetes (sekitar 3-5 tetes) pewarna pada masing-masing wadah
  3. Aturlah beras dengan warna berbeda-beda ke dalam satu wadah besar

Setelah beras siap, bunda hanya perlu menyiapkan sendok serta wadah lain untuk memindahkan beras dari wadah utama. Berikan contoh pada anak untuk memindahkan beras-beras tersebut. Permainan ini sangat menarik bagi anak. 


Pengalaman pertama saat memperlihatkan permainan ini pada Ken, dia langsung tertarik. Langsung saja dia ambil sendok yang telah saya sediakan dan berekspolarasi, mulai dari touching, mencampur-campur beras hingga memindah beras-beras tersebut. Permainan tidak pernah bosan untuk dimainkan meskipun telah beberapa kali saya berikan pada Ken. Bila telah lancar memindah dari satu wadah ke wadah lain tanpa ada beras yang tumpah, bunda dapat menggunakan wadah yang lebih kecil dari sebelumnya untuk semakin mengasah motorik halus si kecil. Tertarik bunda? Silahkan mencoba😊.

Rabu, 19 Juli 2017

ASI
who doesn't knows this magical liquid?

Air Susu Ibu atau yang biasa kita dengar dengan sebutan ASI bukanlah hal yang baru untuk didiskusikan. Setelah melahirkan, semua pasti bertanya, full ASI ya? ASI-nya banyak tidak? ASI eksklusif ya?. Yup, orang-orang di sekitar kita notabene menyarankan untuk memberikan ASI eksklusif pada anak. Namun sebenarnya, sepenting itukah ASI bagi pertumbuhan anak? Pertanyaan ini selalu muncul dalam benak saya. Tanpa terasa saya telah memberikan full ASI pada Ken selama dua tahun kemarin. Ken mulai disapih saat memasuki 25 bulan. Baru saja terlewati proses menyapih 1 minggu, Ken jatuh sakit. Demam. Penyakit klasik bagi para bayi. Namun, demam kali ini sungguh membuat saya dan suami khawatir karena suhu badan Ken yang sangat tinggi. Ken sampai menggigil kala itu. Ini benar-benar pengalaman pertama semenjak Ken lahir. Demamnya-pun berlangsung tiga hari. Padahal sebelum-sebelumnya, Ken demam tidak pernah lebih dari dua hari. Dari hasil tes darah menunjukkan tyfus, DB negatif. Dokter mendiagnosa Ken hanya terserang radang tenggorokan, penyakit yang memang sering Ken alami sebelumnya. Namun pertanyaan yang menggelitik pikiran saya saat itu adalah "bila penyakitnya sama, mengapa penyembuhannya lebih lama daripada sebelumnya?" Apakah ASI berpengaruh pada percepatan proses penyembuhan ketika anak sakit? Inilah yang menginspirasi saya untuk mengulas mengenai ASI pada artikel kali ini.

Apa itu ASI?

ASI merupakan susu hasil produksi manusia sebagai sumber gizi utama bayi yang belum dapat mencerna makanan padat. ASI terbentuk karena pengaruh hormon prolaktin dan oksitosin yang diproduksi saat bayi lahir. ASI memiliki nutrisi sempurna yang dibutuhkan bayi. Antara lain zat mineral, vitamin, lemak dan asam amino. Terdapat pula nukleotida, elemen dasar yang membentuk DNA, Karbohidrat yang menyumbangkan energi, protein yang mempercepat kematangan dinding dalam usus dan zat antimikroba sebagai sistem kekebalan tubuh untuk mendeteksi zat asing dan menetralisir dampaknya. ASI pertama yang keluar dikenal dengan sebutan kolostrum, merupakan imunisasi alami yang sangat baik untuk pertahanan bayi melawan penyakit karena mengandung banyak immunoglobulin IgA.

Apakah jenis makanan ibu mempengaruhi kandungan nutrisi pada ASI?

Tidak! ASI diproduksi dengan kandungan tetap. Bila nutrisi ASi yang diperoleh dari makanan ibu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan produksi ASI, maka ASI akan mengambil nutrisi dari cadangan tubuh ibu. Karena itulah ibu perlu makanan-makanan yang bergizi untuk mencukupi kebutuhan produksi ASI dan dirinya sendiri.

Apa yang mempengaruhi banyaknya produksi ASI?

ASI memiliki kinerja produksi khusus, dimana semakin sering diminum bayi, produksinya akan semakin bertambah. Ibu hanya perlu banyak minum air dan makan agar tubuh ibu tidak dehidrasi dan lemas karena banyaknya ASI yang diproduksi untuk asupan anak. ASI selalu mempunyai suhu standarnya, tingkat kesegaran yang prima, bebas bakteri, serta mudah dicerna. ASI mengandung berbagai macam zat antibodi yang berasal dari ibu, memberi perlindungan terhadap berbagai sumber penularan penyakit bagi bayi. Ajaibnya, komposisi ASI akan menyesuaikan dengan kebutuhan tiap tahap pertumbuhan bayi. 

Menarik bukan?

Setelah mengetahui info penting seputar ASI ini, saya tersadar bahwa kehebatan ASI ternyata melampaui ekspektasi saya selama ini. Sungguh begitu sempurnanya mekanisme yang Tuhan ciptakan dalam tubuh seorang ibu untuk memberikan nutrisi terbaik bagi sang buah hati. So mom, you always know the best for your kid, right?