Rabu, 24 Mei 2017



These are about learning new things.

But,

What's the difference between this two?

Yup. The media.

Setiap ibu pasti menginginkan sang buah hati memiliki tumbuh kembang yang baik, dalam hal fisik, mental, serta tumbuh kembang otak. Pernahkah bunda merasa khawatir saat melihat anak yang sebaya dengan sang buah hati sudah bisa berjalan, merespon komunikasi dengan baik atau bahkan mulai berbicara, hingga dapat mengenal huruf dan angka terlebih dahulu daripada sang buah hati? Bila jawaban anda ya, anda tidak pernah sendiri bunda. Hal yang sangat wajar saat seorang ibu mengkhawatirkan tumbuh kembang anaknya, karena cinta dan kasih sayangnya yang begitu besar. Terkadang meskipun telah banyak ditenangkan dengan kalimat "ah, biasa, anak kan beda-beda," tetap saja tidak dapat dipungkiri seorang ibu akan selalu menginginkan pertumbuhan yang sama atau bahkan lebih baik daripada anak orang lain.
Sebenarnya dimana letak kesalahan yang sering terjadi? Setelah saya observasi terhadap diri sendiri selama 2 tahun perkembangan Ken, anak saya, serta sharing-sharing dengan sesama bunda, kita para bunda terlalu fokus pada goal atau tujuan yang ingin diperoleh, bukan pada prosesnya. Kita lebih sering menerapkan metode yang menurut kita terbaik, daripada menuruti metode yang diinginkan anak sehingga memperoleh hasil terbaik. 
Saya tersadarkan oleh satu kejadian tempo hari. Saat Ken berumur 22 bulan, saya ingat betul saat saudara saya mengirimkan video anaknya yang memiliki selisih umur hanya 12 jam dengannya, kak A, sudah bisa menunjuk banyak benda di buku sesuai dengan yang ditanyakan sang bunda. Kak A juga mulai bisa berbicara walaupun hanya satu suku kata. Galaulah hati ini. Kenzie sudah belum ada satu suku kata pun yang jelas keluar, menunjuk-nunjukpun dia belum bisa. Banyak pikiran yang menghantui, jangan-jangan ada yang salah dengan perkembangannya? Maklum lah di Jayapura ini kami hanya bertiga, dan di kompleks perumahan tidak ada anak seusianya, jadi dia sangat jarang berkomunikasi dengan teman sebayanya. Apa mungkin karena kurang bergaul? Atau apa saya kurang benar mendidiknya? Ah, kak A kan cewek, orang bilang kalau cewek lebih cepat perkembangannya, tapi.. tetap saja semua pikiran buruk memenuhi pikiran saat itu. 
Besoknya saya segera membelikan lebih banyak buku untuk Kenzie dengan tujuan agar dia bisa menunjuk-nunjuk benda sesuai yang diminta. 1 minggu..2 minggu..1 bulan.. hingga 2 bulan usaha yang saya lakukan tidak membuahkan hasil sedikitpun. Setiap kali saya ajak mengenalkan benda yang ada di buku, Ken selalu pergi, atau paling sering yang dia lakukan adalah mengambil buku itu dan membacanya dengan keras-keras (tentunya dengan bahasa bayi bababababaabaa). Selalu seperti itu. Pada akhirnya saat bermain puzzle knob, saya iseng menanyakannya benda yang ada di puzzle, dan amazing, dia mengambil sesuai dengan yang saya minta. Ah just lucky mungkin, pikir saya. Saya tanyakan lagi benda lainnya, and he guess it right!!! Hingga akhirnya semua benda yang saya minta selesai semua. Mulai dari hewan, alat transportasi hingga huruf-huruf, he guess them right!!! Kecuali huruf yang sounding-nya mirip, Ken kadang masih salah, seperti c dan j. Saat itu juga saya memeluk dia. Dalam hati mengutuk diri sendiri karena tidak mencoba mengenalkan sesuatu dari permainan yang dia suka. Karena memang puzzle knob sudah mulai saya perkenalkan sejak dia berumur 1 tahun. What a stupid of me 😅😅😅.
Our kids are special. It just how we know them well. Because they are perfect on the way they are. Mengutip kata-kata Einstein: "Everybody is a genius. But if you judge a fish by its ability to climb a tree, it will live its whole life believing that it is stupid."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar